KETIKA KUTEMUKAN GEJALA YANG SAMA
Bipolar Disorder. Ini adalah jenis sindrom atau penyakit psikologi yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim. Aku mengenal istilah itu baru kemarin dalam sebuah cerpen yang kubaca. Sedangkan mengenai detailnya aku baru mengetahuinya tadi saat aku browsing, mencoba mencari tahu kiranya ada jenis sindrom yang menyebabkan penderitanya merasa kesepian. Ketika menemukan istilah Bipolar Disorder dalam cerpen yang kubaca, aku sama sekali tidak berpikiran untuk mencari tahu lebih jauh mengenai penyakit itu. Justru aku menemukan artikel mengenai bipolar karena ketidaksengajaan. Sudah berbulan-bulan aku begitu penasaran akan keadaan yang menimpa jiwaku. Aku mengira pasti ada suatu sindrom aneh yang bisa menggambarkan keadaanku, tapi aku belum berminat untuk mencari tahu hingga akhirnya tadi aku mencari tahu di internet. Dengan berbagai kata kunci aku berusaha menemukan sindrom apa yang memiliki gejala yang sama dengan apa yang kurasakan.
“Saat mengalami episode mania, penderita merasakan sensasi bahagia,
optimis berlebihan, melakukan aktivitas lebih dari biasa, sangat bertenaga,
kurang kebutuhan untuk tidur, banyak ide,….”
“Pada episode depresi, penderita mengalami gangguan tidur (insomnia),
gangguan selera makan, perasaan cemas yang berkepanjangan, sering menangis atau
ingin menangis tanpa alasan yang jelas, merasa sunyi dan hampa serta tak lagi
berminat pada sesuatu yang tadinya disukai.”
“Namun ada juga saat tertentu, penderita mengalami episode campuran
(mania dan depresi). Suatu saat mungkin ia merasakan energi yang berlebihan,
tidak bisa tidur, banyak ide-ide yang berlalu-lalang di kepala, agresif
(mania). Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keadaan itu berubah menjadi
sebaliknya (depresi)….”
Itu adalah kutipan-kutipan dari salah satu
artikel Sindrom Bipolar yang kutemui. Bukan hanya satu atau dua, tapi
keseluruhan yang di atas telah kurasakan, seperti itulah keadaanku. Entah sejak
kapan aku seperti ini, yang jelas aku tengah tersiksa.
Sekitar
tahun 2012 akhir aku pernah mencurahkan keadaanku di jejaring sosial facebook.
Dan bisakah kalian tebak komentar apakah yang aku terima? Ada yang mengatakan
bahwa aku sudah gila. Sakit, rasanya sakit membaca komentar itu. Buru-buru aku
menghapus statusku itu sebelum orang lain mengatakan hal yang sama. Aku bingung
waktu itu, aku bukan tipe orang yang terbuka terhadap setiap orang, hanya
kepada orang-orang tertentu aku berbagi cerita. Dalam facebook-lah aku bisa
bebas mengungkapkan semauku, dan itu aku lakukan hingga saat ini. Tentunya
masih dengan memegang batasan-batasan.
Tidak
berhenti sampai disitu, aku juga sempat berada dalam keadaan yang benar-benar
down. Rasanya kacau, berantakan. Berperang dengan jiwaku sendiri. Susah payah
aku bangun, tertatih-tatih kembali menuju kehidupan psikis yang normal. Aku
berhasil. Mendapatkan kehidupanku kembali. Tapi nyatanya hanya sementara. Aku
kembali berperang dengan suasana hati yang tidak menentu, yang berubah-ubah
tanpa kuinginkan. “Apa yang terjadi padaku? Suasana hatiku sering berubah-ubah,
aku kadang menangis tanpa sebab yang jelas, aku sering merasa kesepian.” Kurang
lebih seperti itulah yang aku katakan pada dua orang temanku. Mereka kurang
tahu, tapi mereka menyemangatiku dan menyarankan agar aku mencari kesibukan
yang positif agar tidak merasa kesepian lagi. Kesibukan itu memang membantu,
tapi ketika berada di rumah kadang perasaan itu muncul kembali.
“Penderita penyakit
kejiwaan ini bisa hidup normal jika dia mengetahui bagaimana cara
menanggulanginya sehingga jika masuk dalam fase depresi, penderita harus
langsung mencari tempat curhat….”
Teman
yang menjadi tempat curhat memang sangat membantuku di saat suasana hatiku
sedang kacau. Tapi ketika tempat curhat itu tidak lagi mampu menampung curahan
hatiku dan justru menambah beban pikiranku, maka rasa kacau itu menjadi
berlipat ganda. Aku pendengar yang baik dan aku bisa memberikan yang terbaik.
Tapi memberikan yang terbaik bagi diriku sendiri rasanya masih kurang. Ada
beban-beban yang tidak sanggup untuk kulepaskan.
“Penderita
Sindom Bipolar bisa hidup secara normal jika dia mengetahui bahwa dia adalah
penderita Sindrom Bipolar sehingga dia tidak merasa aneh sendiri jika tiba-tiba
dari kondisi mood gembira, dia menjadi sangat sedih. Pada kondisi sedih yang
biasanya hingga fase depresi inilah, penderita Sindrom Bipolar harus segera
mencari bantuan dukungan kepada psikiater maupun orang terdekat yang mengerti
tentang penyakit kejiwaan ini supaya kesedihan itu tidak berlarut-larut yang
pada akhirnya membuat dia berpikir untuk bunuh diri.”
Hidupku
normal. Aku tidak aneh. Aku tidak gila. Hanya suasana hatiku saja yang tidak
menentu. Aku memang merasa tersiksa, tapi aku tidak ingin menunjukkannya secara
langsung pada orang-orang di sekitarku. Aku sangat tidak menginginkan Bipolar
menguasaiku, aku akan terus berusaha untuk melawan suasana hati yang tidak
menentu itu. Dan juga, bunuh diri sama sekali tidak terlintas di pikiranku,
tidak akan pernah.







0 komentar:
Posting Komentar